RSS

The Time We Were Not In Love [Chapter 16]

10 Apr

12248183_10201185447714377_9198667972481745357_o

.

The Time We Were Not In Love [Ch.16]

by Fafa Sasazaki

Son Wendy / Kang Seulgi / Park Chanyeol / Kim Seokjin, and others.

AU |Chaptered | General | Romance |Hurt/comfort

.

.

.

Hari masih terlalu pagi saat Chanyeol mendengar bunyi pemberitahuan di ponselnya. Meregangkan otot sebentar, kemudian Chanyeol bergerak perlahan sewaktu mengambil ponsel di atas nakas, takut kalau Wendy yang tidur di sebelahnya terbangun. Ya, Chanyeol sekarang tidur di ranjang yang sama dengan Wendy. Mereka mulai tidur bersama setelah pengakuan Chanyeol beberapa hari lalu. Hanya tidur bersama, tidak lebih.

Rupanya bunyi tadi adalah email dari Nishimura Kazuto, yang memberitahukan kalau Chanyeol harus sudah ada di New York tanggal 18 Juni. Chanyeol berpikir sebentar, mengingat tanggal berapa hari ini. Rupanya sekarang tanggal 9, berarti masih ada waktu sembilan hari sebelum keberangkatannya.

Chanyeol melirik Wendy yang masih terlelap. Dia sampai saat ini belum memberitahu tentang pekerjaannya. Di tengah melamunnya itu Chanyeol gelagapan saat tiba-tiba ada panggilan masuk ke ponselnya. Buru-buru dia menolak panggilan itu saat membaca nama yang ada di layar. Yoora noona. Beberapa hari belakangan kakak perempuannya itu sering sekali menelepon, namun tidak satu pun Chanyeol angkat. Di sisi lain alasan Chanyeol tidak menjawab telepon Yoora adalah tidak ada satu pesan dari kakaknya yang masuk ke dalam ponselnya setelah teror telepon yang dilakukan beberapa kali. Berarti tidak ada sesuatu yang mengindikasikan darurat, dan semua itu semata keisengan kakaknya saja, pikir Chanyeol.

 

Wendy yang merasa terusik dengan suara ponsel Chanyeol kini mulai membuka mata. Chanyeol mengembalikan ponselnya ke nakas, kemudian kembali berbaring miring menghadap Wendy yang juga menghadapnya.

“Siapa yang menelepon?” tanya Wendy dengan suara serak.

“Hanya temanku yang iseng,” jawab Chanyeol asal.

Setelah itu hening. Keduanya tidak ada yang bersuara, hanya Chanyeol yang satu tangannya terulur menyingkirkan anak rambut Wendy yang menutupi wajah wanita itu.

“Kemarin aku belanja tepung dan kubis,” Wendy memecah keheningan saat teringat satu hal. “kamu buat okonomiyaki ya? Aku sedang ingin makan itu sekarang. Saus okonomiyakinya juga sudah aku beli.” Wendy tersenyum, saat Chanyeol mengangguk lalu kepalanya bergerak maju untuk mencium keningnya. Wendy menyukai sensasi itu.

“Kamu buat dua porsi saja,” lanjut Wendy yang mengundang kerutan di kening Chanyeol.

“Seulgi hari ini tidak kesini. Jongin, pacarnya pulang dan menginap di apartemen Seulgi. Dia punya alasan untuk tidak sarapan di sini,” terang Wendy sebelum Chanyeol sempat bertanya.

Sekarang Chanyeol sedang memainkan rambut Wendy. Agaknya mereka sama-sama ingin menikmati waktu berdua seperti ini. Wendy masih melanjutkan obrolannya.

“Yeol, nanti siang Seulgi dan Jongin mengajak makan siang bersama. Kamu ikut ya? Oh iya, Jongin itu model, siapa tahu dia punya informasi tentang pekerjaan yang berhubungan dengan fotografi di agensinya.”

“Maaf Wen, sepertinya aku tidak bisa ikut.”

Wendy yang sedari tadi mengoceh sambil memainkan bagian depan kaos Chanyeol pun mendongak. “Kenapa?”

“Aku ada urusan. Hm, sepertinya kemarin saat terakhir aku memakai, lensa kameraku ada yang bermasalah.”

“Memangnya meluangkan waktu sedikit untuk makan siang tidak bisa?” Wendy mulai merajuk. Chanyeol yang mendapati ekspresi menggemaskan seperti itu tidak tahan untuk tidak mencium bibir tipis Wendy.

“Maaf, lain kali kalau ada waktu aku pasti datang,” ucap Chanyeol di sela ciumannya.

Wendy mengangguk samar. Dia ingat betul hari pernikahan Sooyoung tinggal empat hari lagi, karenanya segala persiapan harus dilakukan dengan matang.

 

 

 

***

 

 

Alasan Chanyeol mengenai lensa kamera yang bermasalah sebenarnya hanya alibi. Chanyeol yang merasa tidak punya waktu banyak ingin melakukan sesuatu untuk Wendy. Maka dari itu sekarang dia sedang menelepon salah satu sahabatnya sekeluarnya dari apartemen Wendy.

“Halo, Baek. Aku butuh bantuanmu.”

“Bantuan apa? Kenapa tidak Jongdae saja yang kamu mintai bantuan?”

“Tidak, Jongdae tidak bisa. Hanya kamu yang bisa membantuku karena posisimu yang paling kaya di antara kita bertiga. Hahaha.”

Chanyeol bisa mendengar Baekhyun yang mendecih di seberang sana. “Tenang saja, Tuan Byun. Lamaran pekerjaanku sudah diterima, minggu depan aku akan terbang ke New York. Jadi jangan khawatir aku tidak mampu membayar.”

“Baiklah, beritahu aku berapa yang kamu minta, nanti aku transfer. Sudah ya Yeol, aku sedang sibuk.”

Chanyeol tersenyum setelah Baekhyun mengakhiri panggilan.

 

 

 

***

 

 

 

Wendy melambaikan tangan pada Seulgi dan Jongin saat dirinya melewati pintu masuk restoran Italia di kawasan Gangnam. Restoran yang tempo hari dia masuki bersama Madam Louise.

“Kalian sudah lama? Maaf aku terlambat, tadi aku harus ke tempat katering untuk mengonfirmasi ulang menu.” Wendy mengambil duduk di depan Seulgi, sementara kursi kosong yang seharusnya diduduki Chanyeol di sampingnya itu dia gunakan untuk meletakkan tas tangan.

“Mana pacar barumu?” celetuk Jongin. Wendy meringis sebentar.

“Maaf, dia tidak bisa ikut. Dia harus pergi membenarkan lensa kameranya.”

Jongin hanya mengangguk, lalu menyodorkan buku menu yang berada di atas meja pada Wendy. “Kami berdua sudah pesan,” tutur Jongin.

Kegiatan pesan memesan sampai makanan mereka datang memakan waktu lima belas menit.

 

“Wah sayang sekali pacarmu tidak ikut, padahal aku penasaran dengan orang bernama Park Chanyeol itu. Apakah dia orang yang sama yang kutemui di Jepang dulu.” Jongin membuka konversasi dalam acara makan mereka. Hal itu mengundang perhatian Wendy yang sedang meminum jus wortelnya.

“Kalian pernah bertemu?” tanya Wendy.

Kali ini pertanyaan Wendy dijawab oleh Seulgi. “Katanya iya, Wen. Waktu aku cerita pada Jongin tentang yang terjadi pada dirimu dan Chanyeol, Jongin bilang pernah kenal fotografer magang saat tahun lalu ada pemotretan dengan majalah Jepang. Namanya juga Chanyeol. Makanya dia penasaran, apa Chanyeol ini orang yang sama dengan Chanyeol yang tinggal di apartemenmu. Katamu dia kuliah di Jepang ‘kan?”

Wendy mengangguk sembari mengunyah fusilinya lamat-lamat. “Chanyeol memang pernah bilang kalau dia sempat magang di majalah fashion Jepang sih. Oh! Aku punya fotonya, sebentar.”

Wendy bergerak mengambil ponselnya, lalu menekan-nekan sebentar layarnya untuk masuk ke galeri. “Ini?”

Jongin yang disodori ponsel oleh Wendy melihat sebentar gambar seseorang di layar persegi panjang tersebut lantas tersenyum. “Tidak salah lagi. Benar dia orangnya.”

Seulgi menoleh ke arah Jongin. “Benar dia?”

Jongin mengangguk mantap.

“Wah, dunia ternyata sempit sekali,” komentar Seulgi.

“Aku sempat berkenalan dan bertukar cerita saat tahu dia dari Korea.” Jongin menjeda kegiatan makannya. “Aku salut dengan kegigihan dia mengejar impiannya menjadi fotografer di saat orang tuanya menentang keinginannya itu.”

Tangan Wendy yang sedang memegang garpu seketika menjadi kaku saat mendengar kalimat Jongin. “Kamu barusan bilang apa, Jong?”

Jongin menoleh ke arah Wendy yang mengerutkan kening. Jongin ikut bingung dipandang Wendy begitu. “Bilang yang mana? Keinginan Chanyeol menjadi fotografer ditentang orang tuanya?” Jongin memastikan

Wendy mengerjap. “Aku baru tahu hal itu,” ucap Wendy lirih.

“Memangnya Chanyeol belum cerita hal itu padamu?” tanya Jongin dan dijawab gelengan oleh Wendy.

Seulgi yang menyadari perubahan ekspresi Wendy ikut merasa khawatir. “Jongin, dia cerita apa saja padamu waktu itu? Bisa kamu beritahu semua yang kamu tahu?”

“Hm, seingatku Chanyeol pernah cerita kalau dia nekat kuliah di Jepang melalui beasiswa. Dia yang tidak punya kerabat di sana sempat tinggal di warnet selama seminggu. Lalu ketika dia kuliah dan sudah mendapatkan asrama, dia mulai mencari pekerjaan sambilan. Dia benar-benar tidak meminta uang orang tuanya sepeserpun, dia juga menutup rapat komunikasi dengan keluarganya di Korea sampai dia berhasil menjadi fotografer impiannya.”

Rahang bawah Wendy turun saat Jongin bercerita hal yang dia tahu tentang Chanyeol. “Chanyeol bilang kalau semua keluarganya di Jepang,” Wendy berkata lirih lagi.

Jongin menatap Wendy dengan kening berkerut.

“Chanyeol bilang begitu padamu?” tanya Jongin. Wendy mengangguk.

‘Brak!’

Tiba-tiba Seulgi menggebrak pelan meja, membuat perhatian Wendy dan Jongin teralih pada wanita sipit itu.

“Aku dari awal sudah memberitahumu ‘kan, Wen, kalau Chanyeol itu perlu kamu waspadai. Untuk apa dia berbohong seperti itu? Kenapa dia menutup-nutupi kenyataannya padamu?” Seulgi bicara dengan tersulut emosi. Jujur dia tidak suka sahabatnya dibohongi seperti itu.

“Kita harus segera bertemu Chanyeol. Kalau dia benar-benar brengsek, aku minta kamu akhiri saja hubunganmu dengannya.” Seulgi yang terlihat akan beranjak langsung dicekal lengannya oleh Jongin.

“Seulgi, tenanglah sedikit. Jangan emosi begitu. Habiskan dulu makananmu.”

Seulgi menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi dengan kasar. “Nafsu makanku jadi hilang ‘kan gara-gara membicarakan dia. Padahal seharusnya ini menjadi menyenangkan karena ada kamu, Jong.”

Seulgi menampakkan raut menyesal pada Jongin, dan dibalas senyum pengertian oleh pria itu, yang seolah mengatakan tidak apa-apa.

Di sisi lain Wendy juga tidak bernafsu makan, dia juga merasa tidak enak pada dua orang di depannya. Namun fakta tentang Chanyeol yang baru dia dengar ikut berputar-putar di kepalanya.

“Seulgi, aku senang kamu bersimpatik padaku seperti itu. Tapi aku minta kali ini biar aku saja yang menyelesaikan masalah ini. Aku berpikir, Chanyeol pasti punya alasan melakukan hal itu. Dan aku akan menuruti ucapanmu untuk berpisah kalau dia benar-benar bukan pria baik.”

Wendy mencoba tersenyum supaya Seulgi mau menuruti ucapannya untuk tidak ikut campur.

 

 

 

Siang itu selepas dari acara makan siang dengan Seulgi dan Jongin, Wendy memutuskan ke kantor untuk berdiam diri. Banyak pertanyaan yang melintas di kepalanya. Apalagi kalau bukan tentang Chanyeol.

 

Chanyeol kuliah fotografer di Jepang.

Orang tuanya tidak setuju dia menjadi fotografer.

Tapi dia nekat melakukan apa yang ingin dia lakukan.

 

Beberapa fakta Chanyeol yang Wendy katakan dalam hati perlahan membuatnya tertuju pada sosok yang pernah dia kenal. Yaitu Seokjin. Posisi Chanyeol itu hampir sama dengan Seokjin. Mungkinkah pria tinggi itu berbohong karena memang dia tidak ingin Wendy tahu tentang masalah keluarganya?

Wendy mencoba berpikir dengan kepala dingin. Dia mencoba memahami posisi Chanyeol, di sisi lain dia juga ingin tahu kebenaran itu keluar dari mulut Chanyeol sendiri. Chanyeol yang menjelaskan semua pada dirinya sehingga hipotesisnya tidak salah. Apabila saat seperti itu terjadi, Wendy berpikir untuk memafkan soal kebohongan Chanyeol. Sungguh, hubungan mereka memang masih baru, namun perlahan dalam diri Wendy menemukan kenyamanan dan ketulusan dari diri Park Chanyeol yang semakin besar tiap harinya.

 

 

 

***

 

 

 

‘Klik!”

Wendy terkesiap saat membuka pintu apartemen sebuah cahaya kilat menerpa wajahnya. Baru ketika dia membuka mata dari cahaya yang mengejutkan itu, dia ternganga mendapati benda yang berada tak jauh dari wajahnya. Sebuah kamera polaroid. Wendy mendongak menelusuri lorong kecilnya itu sekarang sedikit berbeda, sebuah siku yang menopang kamera polaroid tadi berada sejajar dengan kepalanya, lalu dari atas ada tuas yang dibuat sedemikian rupa sehingga saat pintu dibuka, sebuah tali yang diposisikan pas otomatis menekan shutter kamera.

“Kamu sudah pulang?” Chanyeol muncul dari dalam, menengok keadaan Wendy yang masih terpaku dengan keadaan apartemennya.

“Kamu yang membuat ini?” Wendy bertanya dengan telunjuk mengarah pada pintu.

Chanyeol tersenyum diiringi anggukan. Dia berjalan mendekat, lalu mengambil foto yang keluar dari kamera. Detik selanjutnya dia terkekeh. “Lihat wajahmu. Derp sekali.”

Wendy hanya mengerucutkan bibir kala Chanyeol memperlihatkan hasil fotonya, kemudian dia melangkah masuk memasuki apartemen, meninggalkan pria itu yang masih tertawa geli.

“Untuk apa kamu membuat itu?” Wendy menuangkan air dingin dari dalam kulkas ke dalam gelas, untuk kemudian diteguknya.

Chanyeol mendudukkan dirinya di kursi dapur. “Aku hanya ingin mengingatkanmu, bahwa setelah seharian lelah bekerja, kamu jangan lupa tersenyum. Dan setelah itu, aku ingin kamu menulis di fotonya apa saja yang kamu rasakan selama seharian itu.”

Wendy menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa aku harus repot-repot membuat hal seperti itu, kalau kamu saja bisa bertanya langsung padaku?”

“Karena mungkin saja ada saat dimana aku sedang tidak berada di sisimu, jadi aku tetap ingin tahu perasaanmu hari itu.”

Sejujurnya, nada bicara Chanyeol saat menjawab pertanyaan Wendy biasa saja, namun bagi Wendy jawaban itu terdengar lain. Dalam relung hatinya dia merasa Chanyeol seperti menyembunyikan sesuatu.

“Sudahlah, jangan berkata yang aneh-aneh. Sekarang aku lapar, apa kamu memasak sesuatu?” Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Wendy. Di sisi lain tubuh dan pikirannya sudah lelah dengan semua persiapan pernikahan Sooyoung, maka dia menahan dahulu segala pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Chanyeol. Tekadnya sudah bulat, begitu semua kerepotan ini selesai, Wendy akan menginterogasi Chanyeol tentang semua yang dia tahu dari Jongin.

 

 

 

 

 

TBC

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 April 2018 in Beranda, Fiksi, [Chapter] - TTWWNIL

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
kampungmanisku

menjelajah dunia seni tanpa meninggalkan sains

Capricestory

not real-ly beautiful story

CUAPHELDA

Tidak normal tapi spesial

Lumea Viselor

Real dreams take work

MINRENE

okey dokey yo~

Town of Stories

No highway, no skyscraper, just stories

iKON Fanfiction Indonesia

No limits imagination

IFK

Fly high your imagination

tseukiseuka.wordpress.com/

Stealthy Thought at Some Shifted Days

Syndrome Grabber

Get your syndrome between dream and reality; fantasy.

Mahaken Da Pepeldomoon

You can't break a heart that's already broken

Writers' Secrets

We're some badass with classy attitude

thewordseffect.

I have hated words and I have loved them, and I hope I have made them right—Markus Zusak, The Book Thief

%d blogger menyukai ini: