RSS

The Time We Were Not In Love [Chapter 18]

01 Jun

12248183_10201185447714377_9198667972481745357_o

.

The Time We Were Not In Love [Ch.18]

by Fafa Sasazaki

Son Wendy / Kang Seulgi / Park Chanyeol / Kim Seokjin, and others.

AU |Chaptered | General | Romance |Hurt/comfort

.

.

.

“Siapa dia?” Suara Yoora menyapa rungu Chanyeol tatkala Wendy berjalan menjauh.

Dengan wajah lesu Chanyeol berbalik. “Nanti akan kuberitahu. Nuna, aku harus menyelesaikan masalahku dulu. Jangan khawatir aku tidak pulang, aku pasti pulang setelah urusanku selesai.”

Segera setelah Chanyeol berucap pada Yoora, kaki panjangnya meninggalkan tempat itu. Dengan tergesa-gesa, Chanyeol ingin bertemu dan bicara dengan Wendy.

Dalam pandangan kurang dari sepuluh meter setelah Chanyeol berbelok ke arah rumah Sooyoung, pandangannya menangkap Wendy yang berdiri di depan gerbang. Sepertinya wanita itu menunggu Chanyeol.

Wendy melirik Chanyeol ketika langkah pria itu sudah dekat. Tatapannya masih tajam. Baru ketika Chanyeol ingin membuka suara, Wendy sudah mendahuluinya. “Aku sedang tidak ingin dicurigai, jadi saat masuk kedalam bersikaplah biasa saja. Tapi satu hal, jangan pernah berusaha mengajak bicara padaku, jadi menjaga jaraklah. Kita bicara nanti saat pulang.”

Berikutnya Wendy langsung beranjak mendahului Chanyeol. Menghela napas berat, pria tinggi tersebut mengekor di belakang Wendy.

 

Di dalam, memang Chanyeol dan Wendy terlihat seperti tidak ada masalah. Chanyeol menuruti ucapan Wendy untuk tidak berusaha mengajak bicara. Beberapa kali mereka papasan dan bicara yang sekiranya perlu, Wendy menjawab singkat dan melakukan kamuflase dengan pura-pura melakukan kegiatan lain sehingga dia tidak perlu menatap Chanyeol. Semua orang tidak ada yang curiga. Namun satu orang rupanya ada yang menangkap keanehan tingkah mereka sejak keduanya melangkah masuk dari gerbang depan, dia Kang Seulgi.

 

 

 

 

***

 

 

 

 

Hari ini benar-benar hari yang berat, terutama malam ini. Selama perjalanan pulang, Chanyeol maupun Wendy tidak ada yang membuka percakapan saat duduk di dalam mobil. Tidak ada pose senyum di depan pintu apartemen, Wendy langsung membuka pintu dan berjalan masuk begitu saja. Mengabaikan cahaya kamera yang mengenai dirinya.

Chanyeol menerima respon sikap Wendy dengan hati tak karuan. Berbagai kalimat sudah dia siapkan jauh hari untuk dia jelaskan pada Wendy, dan kenyataan kalau dirinya juga gugup membuat semua kalimat itu berputar-putar di kepalanya.

Wendy berjalan ke arah dapur, mengambil air dari dalam kulkas lalu dituangkan ke gelas dan meminumnya. Seolah belum merasa cukup, dia menuang lagi untuk kedua kali.

Wendy mengambil duduk di salah satu kursi dapur. Chanyeol memerhatikan semua tingkah Wendy tadi dengan berdiri tak jauh dari sana. Lalu keheningan mendominasi beberapa jenak.

 

“Aku minta maaf karena berbohong soal kondisiku.” Chanyeol akhirnya memulai konversasi, membuat Wendy menoleh kearahnya. “Keluargaku tidak berada di Jepang, tapi mereka di Korea semua. Dan perempuan tadi, adalah kakak perempuanku yang dulu pernah kamu tanyakan. Aku melakukan semua ini pun ada alasannya. Dari dulu ayahku—”

Chanyeol tidak meneruskan ucapannya saat Wendy terlihat mengangkat satu tangannya, tanda kalau Chanyeol tidak perlu melanjutkan. “Aku sudah tahu ceritamu, tidak perlu kamu teruskan.”

Kedua mata Chanyeol membulat, dia tampak terkejut. “Apa?”

“Aku tahu dari Jongin. Dia kemarin bercerita banyak soal dirimu.”

Kerutan di kening Chanyeol masih ada, kebingungannya belum berakhir rupanya. “Jongin? Siapa? Apa maksudmu?”

“Oh, mungkin kamu mengenalnya dengan nama Kai. Kamu ingat, model yang bekerja sama denganmu saat di Jepang? Nama aslinya adalah Kim Jongin, dia pacar Seulgi.”

Chanyeol membeku mendengar penjelasan Wendy. Dia ingat betul model bernama Kai, model yang pernah menghabiskan waktu tiga minggu di Jepang itu sempat akrab dengan Chanyeol karena mereka sama-sama dari Korea. Chanyeol tak habis pikir ternyata dunia begitu sempit, dan sekarang dia sedikit menyesal pernah bercerita soal masalah pribadinya pada model itu.

Di saat Chanyeol membisu, Wendy menghela napasnya. “Sejujurnya setelah Jongin bercerita hal itu padaku, aku menunggu kamu akan bicara jujur padaku tentang ini, Yeol. Atau jika tidak, maka aku yang akan bertanya padamu. Dan di saat itu tiba, sebenarnya aku tidak akan marah padamu. Toh kamu berbohong atau jujur soal kondisimu, kamu sepertinya akan tetap memaksa tinggal di sini. Sedikitnya, aku bisa mengerti alasanmu, karena kamu mengingatkanku pada Jin.”

Wendy menghela napas lagi, kali ini rasanya lebih berat. “Tapi aku kecewa padamu, karena kamu tidak mau cerita kalau akan pergi. Aku merasa seperti kamu mempermainkan hatiku. Tiba-tiba kamu datang, lalu pergi lagi. Maksudmu apa? Tidakkah kamu sadar betapa aku sangat menderita dengan yang namanya perpisahan?” Di kalimat terakhir suara Wendy mulai sengau. Perlahan air mata mengalir di pipinya.

Chanyeol panik, dia melangkahkan kakinya sampai di depan Wendy. Hatinya merasa ikut nyeri melihat Wendy seperti ini. “Aku akan menjelaskan padamu. Wendy, kumohon dengarkan aku. Kamu tahu aku sangat berkeinginan menjadi fotografer profesional, dan akhirnya impianku itu terwujud selangkah lagi. Aku sudah punya rencana akan memberitahumu, Wen. Tapi bayanganku tidak dalam kondisi seperti ini.”

Perlahan Chanyeol memberanikan diri meraih tangan Wendy. Wendy ternyata tidak menolak, selanjutnya tangan besar Chanyeol menggenggam kedua tangan Wendy yang lebih kecil. Wendy menunduk melihat tautan tangan mereka, dia berharap setelah ini Chanyeol akan berkata kalau kepergiannya hanya lelucon.

“Kupikir kamu tahu apa yang ingin sekali kulakukan.”

Mendengar satu kalimat meluncur dari bibir Chanyeol, hati Wendy berteriak. Oh tidak, aku benci kalimat ini, batinnya.

“Aku akan tetap ke New York, Wen. Maka dari itu aku sudah memberimu kepastian akan kembali padamu melalui cincin ini. Aku serius dengan ucapanku. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Wendy diam. Dia memikirkan ucapan Chanyeol sambil matanya tertuju pada cincin di jari manisnya.

Sejemang kemudian Wendy melepaskan tangannya dari genggaman Chanyeol, lalu melepas cincin tersebut dan meletakkan di atas meja. “Kalau begitu aku kembalikan ini. Aku rasa aku yang belum siap dengan ketiadaanmu di sini. Dan kita juga tidak ada yang tahu kalau-kalau keadaan nanti berubah.”

Chanyeol terkejut Wendy melakukan dan mengatakan hal seperti tadi. Bersamaan dengan itu, sejumlah rasa kecewa menghampiri Chanyeol. “Kenapa Wen? Apa kamu tidak percaya padaku? Aku akan sering meneleponmu. Bersabarlah paling tidak menungguku satu tahun, lalu aku akan kembali. Aku akan melamarmu, mewujudkan kebahagiaan yang selama ini kamu telah lakukan pada orang lain.”

Wendy menggeleng. “It’s too complicated, Yeol. Aku butuh waktu.”

Dengan air mata yang kembali menganak sungai di wajah, Wendy beranjak dari duduk lalu berjalan menuju kamarnya.

“Penerbanganku empat hari lagi.”

Suara Chanyeol sukses menghentikan sejenak tangan Wendy yang akan membuka pintu. Chanyeol merasa waktunya tidak banyak, dan dia sungguh tidak ingin meninggalkan Wendy dengan kondisi kacau dan kecewa seperti itu. Dia tahu semua ini salahnya, namun dia tidak main-main dengan keseriusannya.

 

Di sisi lain, Wendy merasa hatinya tiba-tiba menjadi berat. Tapi sekeras apapun dia ingin berteriak di depan Chanyeol supaya tidak pergi, rasanya percuma. Dirinya yang sudah mengenal dan tahu masalah Chanyeol merasa kalau sikap egoisnya itu malah akan membuat Chanyeol dalam kesulitan. Namun tidak bisa dipungkiri juga kalau sebagian hatinya tetap tidak ingin pria itu pergi.

Benar-benar dilema.

Karenanya tadi dia mengembalikan cincin pemberian Chanyeol. Secara tidak langsung dia mengembalikan posisi mereka di mana tidak saling terikat.

Tanpa menyahut perkataan Chanyeol dan tanpa menoleh ke arah pria itu, Wendy membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali. Di dalam, Wendy menyenderkan punggung ke pintu diiringi air mata yang mengalir lebih deras.

 

Chanyeol memandang cincin yang tergeletak di atas meja dapur dengan nanar. Perlahan diambilnya benda itu lalu dimasukkan ke dalam kantong celana. Selanjutnya dia mengambil beberapa barangnya selain yang berada di kamar Wendy, kemudian berjalan keluar dari sana. Dia tidak ada alasan untuk tinggal di apartemen Wendy lagi.

 

 

 

***

 

 

 

“Yeol, kamu pulang.”

Suara ibu Park yang lemah menyambut Chanyeol yang memasuki kamar orang tuanya. Wanita berumur itu berbaring lemah di atas ranjang. Chanyeol yang duduk di tepi ranjang pun langsung diberi pelukan erat dan hangat sang ibu.

“Aku merindukanmu, Ibu,” lirih Chanyeol.

“Kalau rindu kenapa tidak memberitahu Ibu kalau kamu sudah pulang dari Jepang? Kenapa kamu tidak pernah sekali saja menelepon Ibu? Kamu baru pulang sekarang karena mendengar Ibu sakit, begitu? Apa harus menunggu Ibu seperti ini kamu baru mau pulang?”

Chanyeol melepas pelukannya, lalu memandang ibunya yang cerewetnya tidak berubah. “Kalau begitu aku minta maaf. Bukankah ayah yang menyuruhku tidak kembali ke rumah ini sebelum aku menjadi fotografer yang selama ini kuinginkan?”

Ibu Park mendengus. “Itu urusanmu dengan ayahmu. Tidak ada sangkut pautnya dengan ibu.”

Chanyeol tersenyum masam. “Bagaimana bisa bilang tidak ada sangkut pautnya, kalau ibu dan Yoora nuna selalu merecokiku supaya bekerja di kantor ayah.”

“Itu karena ibu dan Yoora mengkhawatirkanmu, Yeol.”

Chanyeol tersenyum mendengar penuturan ibunya. “Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Berkat kalian khawatir itu aku mendapat pekerjaan yang selama ini kuimpikan.”

“Benarkah? Kamu menjadi fotografer?”

Chanyeol mengangguk. “Tanggal tujuh belas nanti aku pergi ke New York.”

“Secepat itu?”

Chanyeol mengangguk lagi.

“Tapi kenapa kamu sepertinya tidak senang?” Ibu Park peka, beliau menangkap sorot kesedihan di mata putranya.

“Apa karena pacarmu kemarin, Yeol?” Satu suara ini sukses membuat Chanyeol dan ibunya menoleh ke arah pintu. Yoora berdiri di sana.

“Oh? Kamu masih pacaran dengan Sandara? Kata Yoora, temannya ada yang pergi ke pernikahan Sandara bulan-bulan lalu.”

Pertanyaan ibu Park membuat Chanyeol menggeleng. Ketika dia ingin menjelaskan Yoora sudah lebih dulu bersuara.

“Pacar tiang ini sudah bukan Sandara, Bu. Pacar Chanyeol kemarin sepertinya seumuran dengan Chanyeol. Dia cantik sekali.”

Chanyeol menelan ludah saat wanita paruh baya itu tersenyum penuh arti ke arahnya. “Kenalkan pada Ibu. Ibu jadi penasaran.”

“Sepertinya hal itu sulit. Sekarang ini dia sedang tidak ingin bertemu denganku.”

 

 

 

***

 

 

 

Seulgi terkesiap saat membuka pintu apartemen Wendy, sebuah cahaya menerpa wajahnya. Seulgi sempat bengong beberapa saat sewaktu irisnya menangkap kamera polaroid di sana.

“Buat apa Wendy memasang kamera di sini?” gumam Seulgi sambil lalu. Kakinya mulai berjalan ke dalam. Di tangan kanannya dia menjinjing plastik putih berisi makanan. Seulgi sedikit heran saat apartemen itu terkesan sunyi.

Pagi tadi dia menerima pesan dari Wendy kalau hari ini Wendy tidak membuat sarapan. Alhasil Seulgi berjalan ke arah supermarket untuk membeli kimbab sebelum ke apartemen sahabatnya. Sejak dirinya merasa ada keanehan di antara Wendy dan Chanyeol, dia merasa tidak tenang sendiri. Dan baru pagi ini dia bisa menemui Wendy. Ngomong-ngomong, semalam dia dan Joohyun menerima ajakan Sooyoung dan Sungjae untuk pesta minum di rumah Sooyoung. Wendy dan Chanyeol memilih pulang saat itu.

“Aku beli kimbab! Kalian ada yang mau?!” Seulgi sengaja mengeraskan suara agar Wendy dan Chanyeol yang berada di dalam kamar bisa mendengar. Tentu saja wanita sipit itu tidak mengira kalau Chanyeol sudah tidak ada di sana. Seulgi berjalan ke arah dapur dan membuka kimbabnya di sana. Tak ada jawaban dari Wendy maupun Chanyeol, Seulgi kemudian berjalan ke kamar Wendy. Tangannya sedikit ragu membuka pintu tersebut. Pasalnya dia teringat kejadian tempo hari saat mendapati Chanyeol dan Wendy tidur bersama.

Detik berikutnya Seulgi mengerutkan kening saat tangannya sukses membuka pintu, dia mendapati pemandangan Wendy yang tiduran membelakangi pintu. Tubuhnya terlihat bergetar. Bahkan baju yang dikenakan kemarin saat mengurus pernikahan Sooyoung masih melekat di tubuh Wendy.

“Wen,” panggil Seulgi pelan. Dia sudah melangkah ke arah ranjang Wendy. Ketika arah matanya menyapu ruangan, dia tidak mendapati presensi Chanyeol.

Wendy berbalik saat merasakan Seulgi telah duduk di sebelahnya. “Seulgi,” tukas Wendy parau seiring tubuhnya bangkit duduk dan langsung memeluk sahabatnya itu.

“Wen? Ada apa? Kenapa kamu menangis?” kata Seulgi panik.

“Kamu benar, Seul. Seharusnya aku menuruti ucapanmu. Seharusnya aku tidak menerima Chanyeol saat dia bilang ingin menumpang sebentar di sini. Ternyata dia melakukannya benar-benar sebentar.” Wendy mulai meracau.

Seulgi yang membenarkan praduganya kalau ada sesuatu di antara Wendy dan Chanyeol, kini membalas pelukan Wendy. Diusapnya punggung wanita di depannya. “Memangnya apa yang Chanyeol lakukan?”

Dalam sesenggukannya, Wendy menjawab lirih. “Dia akan pergi.”

 

 

 

***

 

 

 

“Memangnya kamu harus ya pergi ke New York? Apa tidak ada pekerjaan yang seperti itu di sini, Yeol?”

Ibu Park meminum teh herbalnya setelah bertanya pada Chanyeol. Tiga puluh menit sebelum ini, Chanyeol menceritakan tentang hubungannya dengan Wendy pada Yoora dan ibunya. Dari awal pertemuan mereka, sampai terakhir mereka bertatap muka di mana Wendy mengembalikan cincin yang diberikan Chanyeol.

Kini di kamar orang tua Chanyeol tinggal sang ibu dan dirinya. Yoora keluar dari sana selepas rasa ingin tahunya menguap.

“Tidak, Bu. Aku harus pergi. Aku sudah merencanakan hal ini jauh sekali yaitu sejak dimulainya kuliahku. Ini sudah menjadi mimpi terbesarku.”

“Tapi apakah itu kedengarannya egois, Yeol?”

“Untuk orang yang tidak diberi kebebasan sepertiku aku rasa tidak.” Ibu Park tahu Chanyeol menyinggung keluarganya, termasuk dirinya juga. “Aku bahkan sudah berencana mengajak Wendy untuk tinggal di sana kalau memang jarak yang menjadi masalah, kalau dia tidak mau menungguku.”

“Tapi kamu tidak memberitahu Wendy. Iya kan?”

“Belum. Dia memilih mundur sebelum aku mengatakannya.”

“Ibu rasa, hal itu tetaplah egois Yeol. Karena keputusan itu kamu sendiri yang mengambilnya.”

Chanyeol mengusap wajahnya frustasi. Ibu Park yang melihat itu mengusap lengan putranya. “Tidakkah kamu sadar sikapmu ini sama seperti ayahmu? Memaksakan kehendakmu sesuka hati pada orang lain. Ayahmu memaksakan keinginannya yang tidak sesuai dengan keinginanmu, apa yang terjadi? Kamu pergi kan?”

Chanyeol menoleh memandang ibunya dengan tatapan sendu. Dia tahu kalimat selanjutnya jika ibunya itu meneruskan. Dan hal itu sudah terjadi, Wendy memilih mundur. Chanyeol paham rasa kehilangan yang pernah dialami Wendy begitu mengguncang jiwanya. “Menurut Ibu, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin kehilangan dia.” Suara Chanyeol terdengar begitu nelangsa.

Ibu Park tersenyum, mencoba menenangkan putranya. “Pikirkanlah baik-baik, apa yang sebenarnya kamu inginkan, dan apa yang seharusnya kamu korbankan. Lalu bicarakanlah semua ini dengan Wendy.”

 

 

 

TBC

Iklan
 
 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
kampungmanisku

menjelajah dunia seni tanpa meninggalkan sains

Capricestory

not real-ly beautiful story

CUAPHELDA

Tidak normal tapi spesial

Lumea Viselor

Real dreams take work

MINRENE

okey dokey yo~

Town of Stories

No highway, no skyscraper, just stories

iKON Fanfiction Indonesia

No limits imagination

IFK

Fly high your imagination

tseukiseuka.wordpress.com/

Stealthy Thought at Some Shifted Days

Syndrome Grabber

Get your syndrome between dream and reality; fantasy.

Mahaken Da Pepeldomoon

You can't break a heart that's already broken

Writers' Secrets

We're some badass with classy attitude

thewordseffect.

I have hated words and I have loved them, and I hope I have made them right—Markus Zusak, The Book Thief

%d blogger menyukai ini: